Unduh pemaparan lengkap di sini:
http://goo.gl/VUDhT
Kata sandi: dhanzsity
Contoh strategi pengembangan wisata bahari di Kabupaten Pacitan:
1. Pengembangan kawasan bermain dan hiburan keluarga di dekat pantai (misal Pantai Teleng dan Srau). Dengan modal kekayaan alam yang baik dan tempat yang memadai, pantaipantai tersebut dapat dikembangkan menjadi kawasan bermain dan hiburan dengan sistem one stop service seperti di Wisata Bahari Lamongan (WBL). Di masa sekarang minat masyarakat akan meningkat jika dengan adanya pengembangan modern di kawasan wisata.
2. Pengembangan kawasan olahraga selancar di Pantai Teleng Ria. Potensi ombak/gelombang yang didukung oleh morfologi Teluk Pacitan, dapat dimanfaatkan sebagai sarana olahraga selancar—yang memiliki animo cukup tinggi dari wisatawan luar negeri dan domestik. Mengingat hanya sedikit pantai-pantai di Pesisir Selatan Jawa yang memiliki potensi olahraga selancar (salah satunya Pantai Plengkung, Banyuwangi), Pantai Teleng Ria dapat dijadikan kawasan selancar dengan target konsumen dari sekitar Pacitan (DIY, Jateng, Ponorogo, Madiun, dll.).
3. Pengembangan kawasan wisata bahari dengan mengajak pihak swasta agar pengelolaan bisa optimal. Pihak-pihak swasta dikenal sebagai pihak yang benar-benar mengedepankan keberhasilan dan loyalitas terhadap usaha yang dikelolanya, sehingga sifat tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan wisata bahari di Kabupaten Pacitan. Anggaran dari pihak swasta dapat mencukupi ABPD yang tidak begitu banyak dan pendanaan tersebut bisa diarahkan untuk pembangunan kawasan wisata bahari pada poin (1) dan (2).
Pembahasan lengkap, unduh di sini:
Kata sandi: dhanzsity
Pantai Srau. Jarak dari pusat kabupaten yang cukup jauh—±25 km—terbayar denganbpanorama pantai yang luar biasa. Masih perawan, tenang, dan alami, pantai ini memberikan pesona pasir putihnya, air birunya, dang karang berwarnanya. Pantai ini terdiri atas tiga bagian yang dipisahkan oleh bukit karang—tempat di mana masyarakat dapat memancing. Penduduk di sekitar pantai masih jarang dan masih penuh dengan gaya tradisional. Biaya masuk sebesar Rp 3.000,00/kepala.
Gua Gong. Goa Gong terletak 30 km dari kota Pacitan atau 45 menit waktu tempuh, dapat dicapai dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Goa dengan stalagtit dan stalagmitnya yang dinominasikan sebagai goa terindah di Asia Tenggara ini mampu memukau setiap wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Stalagtit tertentu akan berbunyi seperti gong jika dipukul. Selain keindahan stalagtit dan stalagmitnya, Goa Gong memiliki lima sendang yang dinilai magis bagi siapa saja yang mempercayainya, yaitu Rogo, Panguripan, Jiwo, Kamulyan, dan Ralung Nisto. Kedalaman goa ini mencapai 256 m, 12 ruang utama, dan 7 mata air. Di sekitarnya menjual oleh-oleh khas, misalnya akik. Biaya masuknya paling mahal Rp 4.000,00.
Monumen Jenderal Soedirman. Jarak dari pusat kabupaten sejauh 50 km dengan jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Kawasan utama seluas sembilan hektar, di tempat itu telah berdiri sebuah patung Panglima Besar Jenderal Sudirman dan pagar tembok keliling dilengkapi dengan relief perjuangan peperangan di masa kemerdekaan, sementara itu kawasan kedua luasnya sekitar 60 hektare yang pembangunannya dilakukan secara bertahap.
Upacara Ceprotan. Upacara Ceprotan biasa dilakukan pada pada hari Ahad atau Senin di Bulan Dzulqo’dah, atau bulan Longkang menurut Kalender Jawa. Kesenian daerah Ceprotan sebenarnya adalah upacara tradisional untuk melakukan tradisi bersih desa (seperti dilakukan kebanyakan orang Jawa) yang dilakukan masyarakat di desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.
Deskripsi objek wisata lain unduh di sini:
Kata sandi: dhanzsity
Ekowisata merupakan salah satu model yang ada dalam kegiatan wisata selain Rural tourism, Urban tourism, Heritage/cultural tourism, Nature based, dan Adventure bases (Pratiwi). Ekowisata atau sering juga ditulis atau disebut dengan ekoturisme, wisata ekologi, ecotoursism, eco-tourism, eco tourism, ecotour, eco-tour adalah perjalanan ke tempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini (Hector Ceballos-Lascurain dalam Ekowisata Indonesia, 1987). Sedangkan menurut The International Ecoturism Society (1990), ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat.
Ekowisata harus dipahami melalui dua sisi, yaitu ekowisata dari segi
konsep dan ekowisata dari segi pasar. Ekowisata dari segi konsep merupakan pariwisata bertanggung jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Sedangkan ekowisata dari segi pasar selalu mengacu pada bentuk kegiatan wisata yang mendukung pelestarian, ekowisata semakin berkembang tidak hanya sebagai konsep tetapi juga sebagai produk wisata.
Ekowisata mulai muncul sejak ada indikasi eksploitasi manusia yang
berlebihan terhadap alam. Eksploitasi tersebut menimbulkan lebih banyak pengaruh negatif pada lingkungan. Gambaran tersebut divisualisasikan melalui media semisal film. Dicontohkan adalah film Tarzan melawan penjahat yang mengeksploitasi hutan dan isinya.
Pembahasan lengkap unduh di:
Kata sandi: dhanzsity