Tampilkan postingan dengan label Geografi Desa Kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Desa Kota. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Pola Pemukiman Desa

Menurut Daldjoeni (1999) dalam bukunya Geografi Desa dan Kota, pola pemukiman desa dapat diklasifikasikan menjadi 6 tipe, yaitu pola memanjang jalan, memanjang sungai, radial, tersebar, memanjang pantai dan sejajar jalur kereta api.

Screenshot:

image

Unduh pemaparan lengkap di sini:

mediafire-logo2

http://goo.gl/0iifb

Rabu, 16 Maret 2011

Seperempat Hari Bersama Kota Malang (Laporan Singkat)

Tim KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Geografi Desa dan Kota, memiliah CBD (Central Bussiness District) Kota Malang sebagai perhentian pertama. Inti kota (alun-alun) menggambarkan suatu topografi yang datar, menjawab kebutuhan utama masyarakat: pendidikan, sosial, budaya. Seperti kota-kota yang lain, CBD Kota Malang merupakan daerah pusat kegiatan. Terdapat mall, Bank Indonesia, Kantor Pemerintahan, masjid, gereja, kantor pos, sekolah, dan lain-lain. Orang-orang lalu lalang siang dan malam, untuk bekerja, belanja, bahkan sekadar untuk nongkrong.
Oops, tapi inti kota Malang belum menunjukkan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Lihat saja, sebagian besar alun-alunnya stop-covered atau tertutup oleh paving. Hm, Ruang Terbuka Hijau akan berkurang.
SDC11084SDC11060
Di dalam dan sekitar alun-alun, masyarakat menempati cluster terentu untuk berjualan. Di berbagai tempat dan terkesan sembarangan. Biasanya mereka menjual jajanan. Kegiatan ditambah dengan para pengemis, orang berkencan, dan sekadar lewat saja.
Tidak jauh dari inti kota, terdapat Pasar Besar Kota Malang. I think it’s right. Di sekitar pasar, merupakan kampung-kampung khusus: Cina, Arab, Madura. Di pasar sendiri, merupakan ‘tempat penuh sesak’: parkir memakan badan jalan, berjualan di trotoar.
SDC11072Kita tinggalkan CBD dan menuju bagian selaput Kota Malang: Comboran (Pasar). Coboran digambarkan oleh topografi yang mulai melandai dan hiruk pikuk yang tidak se-intense di inti kota. Comboran merupakan gambaran manusia butuh uang, tapi dengan cara apapun. Psst, informan tertentu menceritakan bahwa Comboran merupakan pasar yang menjual barang-barang hasil.
Sampailah di pitstop terakhir:Lapangan Rampal. Kawasan ini merupakan kawasan hijau dengan rumput dan pohon yang subur. Kegiatan masyarakat di sekitarnya tidak sepadat di inti dan selaput kota. Di kawasan ini, masih terasa hawa nyaman dan damai. Hanya terdapat beberapa ruko. dan kegiatan utama didominasi oleh kegiatan relaksasi: olahraga.
Nah, sebenarnya observasi seharusnya berlanjut untuk mengekspor seluruh kota, namun berhubung judul post seperti di atas, observasi harus berakhir. Yang terakhir, perkembangan perkotaan tidak akan jauh dari kemajuan (kegiatan) dan kemerosotan (lingkungan). Ini gambar terakhir dari saya. Kota Malang dari ketinggian.
malang
(purify, (c)2011 dhanzsity)